Pembelajaran Kontekstual

Pengertian Pembelajaran Kontekstual

   Menurut Johnson dalam Nurhadi, Pengertian CTL adalah  sebagai berikut:

                     “The CTL system is an educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with the context of their personal, social, and cultural circumstances”.

Sistem  CTL merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan lingkungan pribadi, sosial, dan budayanya.

Menurut Nurhadi, Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antar pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit-demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Dari beberapa definisis diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan suatu model pembelajaran yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata yang dialami siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diharapkan dapat menyimpan lebih lama pengetahuan yang dipelajarinya karena mereka pengetahuan yang mereka pelajari akan bermanfaat dalam kehidupannya.

    c. Karekteristik Pembelajaran Kontekstual

Beberapa karakteristik pembelajaran kontekstual yaitu:

1)      Kerja Sama

2)      Saling Menunjang

3)      Menyenangkan dan tidak membosankan

4)      Belajar degan bergairah

5)      Pembelajaran terintegrasi

6)      Menggunakan berbagai sumber

7)      Siswa Aktif

8)      Berbagi pengetahuan dengan teman

9)      Siswa kritis, guru kreatif

10)  Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil

karya siswa, peta, gambar, artikel,humor dan lain-lain

Selanjutnya menurut Zahorik dalam Depdiknas  pembelajaran kontekstual itu terdiri atas lima elemen yakni:

1)      Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)

2)      Pemerolehan pengetahuan baru (aquiring knoowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikannya secara detail.

3)      Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun 1) konsep sementara (hipotesis), 2) Melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan itu, 3) konsep itu direvisi dan dikembangkan.

4)      Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman (applying knowledge).

5)      Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

    d. Komponen Utama Dalam Pembelajaran kontekstual

Nurhadi mengemukakan bahwa ada tujuh komponen utama yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian autentik (authentic assessment).

1)      Konstruktivisme (constructivism)

Menurut Sardiman konstruktivisme merupakan landasan berpikir bagi pembelajaran kontekstual. Pengetahuan riil bagi siswa adalah sesuatu yang dibangun atau ditemukan oleh siswa itu sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang diingat siswa, tetapi siswa harus merekonstruksi pengetahuan itu kemudian memberi makna melalui pengalaman nyata. Dalam proses pembelajaran siswa harus dilatih untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, mengemukakan ide-ide dan kemudian mampu merekonstruksinya.

Dalam Pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:

a)      Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa

b)      Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan  idenya sendiri

c)      Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri   dalam belajar

2)      Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

Menurut Sardiman  kegiatan bertanya dalam proses pembelajaran berguna untuk:

a)      Menggali informasi

b)      Mengecek pemahaman siswa

c)      Membangkitkan respon siswa

d)     Mengetahui seberapa jauh keingintahuan siswa

e)      Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

f)       Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

g)      Menyegarkan kembali pengetahuan siswa

3)      Menemukan (Inquiry)

Kegiatan menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Guru diharuskan selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan untuk setiap materi yang diajarkannya.

Dalam Sardiman  disebutkan, langkah-langkah kegiatan menemukan adalah:

a)      Merumuskan masalah

b)      Mengamati atau melakukan observasi, termasuk membaca buku, mengumpulkan informasi

c)      Menganalisis dan menyajikan hasil karya dalam tulisan, laporan, gambar, tabel dan sebagainya

d)     Menyajikan, mengkomunikasikan hasil karyanya didepan guru, teman sekelas atau audiens yang lain

4)      Masyarakat Belajar (Learning Community)

Dalam kelas dengan pendekatan kontekstual guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran secara kelompok. Siswa yang pandai mengajari yang lemah dan yang tahu memberi tahu temannya yang belum tahu. Menurut Nurhadi, Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Dalam  masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar guru dan siswa. Seseorang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

Perwujudan masyarakat belajar dikelas dapat dilakukan dengan cara pembentukan kelompok kecil, pembentukan kelompok besar, mendatangkan ”ahli” ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja kelompok dengan kelas diatasnya dan lain-lain.

5)      Pemodelan (modeling)

Dalam pembelajaran kontekstual keterampilan atau pengetahuan tertentu menghendaki model yang bisa ditiru. Model dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melakukan suatu percobaan kimia atau cara penyampaian materi lainnya oleh guru. Dengan demikin guru berperan sebagai model.

Menurut Sardiman dalam pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Siswa dapat ditunjuk untuk melakukan suatu percobaan di depan kelas karena siswa tersebut telah memahami percobaan itu melalui buku yang dia miliki. Siswa itu dapat dikatakan sebagai model, dan siswa yang lain dapat menggunakan model sebagai standar kompetensi yang harus dicapai.

6)      Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan bagian penting dalam pembelajaran dengan CTL. Refleksi adalah cara berpikir atau perenungan tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yng sudah kita lakukan di masa lalu. Dalam refleksi ini siswa mengendapkan apa-apa yang baru saja dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru dan merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.

Dalam Nurhadi disebutkan bahwa guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran. Pada akhir pembelajaran guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi, realisasinya berupa:

a)      Pernyataan langsung mengenai hal-hal yang diperolehnya hari itu

b)      Catatan atau jurnal siswa

c)      Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu

d)     Diskusi

e)      Hasil karya

f)       Cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari

7)      Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

 Dalam Nurhadi disebutkan bahwa Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan siswa. Prinsip penilaian yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut:

a)      Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja dan produk

b)      Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung

c)      Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber

d)     Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian

e)      Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari

     e. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional

No

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran Konvensional

1 Siswa secara aktif terlibat dalam pembelajaran Siswa adalah penerima informasi secara pasif
2 Siswa belajar secara kelompok, diskusi dan saling mengoreksi Siswa belajar secara individual
3 Pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata Penjelasan sangat abstrak dan teoritis
4 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
5 Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siwa diajak meggunakan bahasa dalam konteks nyata Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural rumus diterangkan sampai paham kemudian dilatihkan
6 Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skema yang sudah ada dalam diri siswa Rumus ada diluar diri siswa yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan dan dilatihkan
7 Siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam upaya terjadinya proses pembelajaran yang efektif Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat, menghafal) tanpa memberi kontribusi ide dalam proses pembelajan
8 Siswa diminta bertanggungjawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran
9 Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa
10 Pembelajaran terjadi diberbagai tempat, konteks, dan setting Pembelajaran hanya terjadi di kelas
11 Penyesalan adalah hukuman dari prilaku jelek Sanksi adalah hukuman dari prilaku jelek
12 Hadiah untuk prilaku baik adalah kepuasan Hadiah untuk prilaku baik adalah nilai rapor atau pujian
13 Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, tes, dan lain-lain Hasil belajar diukur hanya dengan tes

 f.  Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual

Komponen pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan melalui beberapa model pembelajaran diantaranya: pembelajaran langsung, pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif.

1)      Model Pembelajaran Langsung

 Pembelajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Model pembelajaran ini dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Pada model pembelajaran langsung terdapat lima fase yang sangat penting. Kelima fase ini melibatkan peran guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Pembelajaran langsung memerlukan cukup banyak peran guru dalam proses pembelajaran. Alur kegiatan pembelajaran langsung secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

FASE PERAN GURU
  1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
  1. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
  2. membimbing pelatihan
  3. mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
  4. memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar

Guru mendemonsrasikan keterampilan dengan benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap

Guru merencanakan dan membimbing pelatihan awal

Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.

2)      Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Ciri-ciri pembelajaran ini adalah adanya pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disiplin, adanya penyelidikan autentik, ada kerjasama, dan menghasilkan karya dan penghargaan.

Pembelajaran dengan metode ini bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan penyelidikan, membantu siswa memperoleh pengalaman tentang peran intelektual orang dewasa dengan melibatkan mereka bekerja dalam situasi kehidupan nyata dan membantu siswa mandiri dan otonom. Model pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari lima tahap utama yang dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Tahap Kegiatan guru
Tahap 1

Orientasi siwa kepada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnyaTahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajarGuru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebutTahap 3

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompokGuru mendorong siswa untuk  mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahTahap 4

Mangembangkan dan menyajikan hasil karyaGuru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannyaTahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalahGuru memebantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan

Pada tingkat paling mendasar, pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa bekerja dalam pasangan atau kelompok kecil untuk melakukan penyelidikan masalah-masalah kehiupan nyata.

3)      Model pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menghendaki siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Keterampilan yang diajarkan dalam pembelajaran ini adalah keterampilan kerja sama dan kolaborasi.

Model Pembelajaran Kooperatif terdiri dari enam tahap utama yang dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Fase Tingkah Laku Guru
Fase-1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswaGuru menyampaikan semua tujuuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dam memotivasi siswa belajarFase-2

Menyajikan informasiGuru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaanFase-3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajarGuru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisienFase-4

Membimbing kelompok belajar dan bekerjaGuru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas merekaFase-5

EvaluasiGuru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanyaFase-6

Memberikan penghargaanGuru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

About NOVIA KIMIA PASCA UNP

mahasiswa kimia pasca sarjana UNP

Posted on Mei 12, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. kak via besoq ajarin andri buat isi blog nya lebih menarik ya, pnya andri byasa ajja .. oqqqeee🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: