TAXONOMI BLOOM

TAXONOMI BLOOM


Taksonomi berasal dari bahasaYunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian-sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi. Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada  tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan. Konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

Ranah kognitif meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian mentalitas. Ranah afektif meliputi fungsi yang berkaitan dengan sikap dan perasaan. Sedangkan ranah psikomotorik berkaitan dengan  fungsi manipulatif dan kemampuan fisik. Ranah kognitif menggolongkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang menggambarkan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir mengekspresikan tahap-tahap kemampuan yang harus siswa kuasai sehingga dapat menunjukan kemampuan mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Mengubah teori ke dalam keterampilan terbaiknya 
sehinggi dapat menghasilkan sesuatu yang baru sebagai produk inovasi 
pikirannya.

Konsep tersebut mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan dan 
kemajuan jaman serta teknologi. Salah seorang murid Bloom yang bernama 
Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil 
perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi
Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari 
kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan 
secara hirarkis, dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah 
kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi
analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak 
berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating 
yang sebelumnya tidak ada.

                                                              Revisi Taxonomi Bloom


 Penyusunan Tes berdasarkan Taksonomi Bloom

1. Ranah Kognitif (cognitive domain)

            Ranah kognitif mencakup kegiatan otak. Menurut Bloom yaitu segala upaya yang menyangkut aktifitas otak termasuk ranah proses berfikir. Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berfikir yaitu:

a. Pengetahuan/ingatan/hafalan (knowledge)

            Pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, atau rumus dan sebagainya (Sudijono, 2001:50). Dalam hal ini pengetahuan disebut juga dengan pengetahuan hafalan atau untuk diingat.

            Soal ingatan adalah pertanyaan yang jawabannya dapat dicari dengan mudah pada buku atau catatan. Pertanyaan ingatan biasanya dimulai dengan kata-kata mendeskripsikan, mengidentifikasikan, menjodohkan, menyebutkan dan menyatakan (Arikunto, 2003:155).  Tes yang paling banyak dipakai untuk mengungkapkan aspek pengetahuan adalah tipe melengkapi, tipe isian dan tipe benar salah.

Kata-kata kerja operasional mengingat : mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menuliskan, menempatkan, mengulangi , menemukan kembali dsb.

Contoh

Indikator : Menuliskan nama senyawa biner ionik dan kovalen

Soal          :  Nama dari senyawa dengan rumus molekul Na3PO4 adalah …                                                                                            

b. Pemahaman (comprehension)

            Pada jenjang ini siswa diharapkan tidak hanya mengetahui, mengingat tetapi juga harus mengerti. Memahami berarti mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi dengan kata lain siswa dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci dengan menggunakan kata-katanya sendiri (Sudijono, 2001:50).

Pemahaman dibedakan ke dalam tiga kategori menurut Sudjana (2006:….)

  • Pemahaman terendah adalah pemahaman terjemahan.
  • Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
  • Pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ini seseorang diharapkan mampu melihat di balik yang tertulis.

Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian. Kata-kata kerja operasional memahami : menafsirkan, meringkas, mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, mebeberkan.

Contoh

Indikator : Mengklasifikasikan unsur ke dalam isotop, isobar dan isoton

Soal       : Unsur A mempunyai 10 proton dan 12 neutron, sedangkan unsur B mempunyai nomor massa 23 dan nomor atom 11, kedua unsur tersebut termasuk ….

c. Aplikasi/Penerapan (application)

            Aplikasi adalah pemakaian hal-hal abstrak dalam situasi konkret. Hal-hal abstrak tersebut dapat berupa ide umum, aturan atau prosedur, metode umum dan juga dalam bentuk prinsip, ide dan teori secara teknis yang harus diingat dan diterapkan.

            Sementara itu menurut Arikunto (2003:156) soal aplikasi adalah soal yang mengukur kemampuan siswa dalam mengaplikasikan (menerapkan) pengetahuannya untuk memecahkan masalah sehari-hari atau persoalan yang dikarang sendiri oleh penyusun soal dan bukan keterangan yang terdapat dalam pelajaran yang dicatat.

            Bloom membedakan delapan tipe aplikasi dalam rangka menyusun item tes tentang aplikasi (Sudjana, 2006:……)

  • Dapat menetapkan prinsip atau generalisasi yang sesuai untuk situasi baru yang dihadapi.
  • Dapat menyusun kembali masalahnya sehingga dapat menetapkan prinsip atau generalisasi mana yang sesuai.
  • Dapat memberikan spesifikasi batas-batas relevansi suatu prinsip atau generalisasi.
  • Dapat mengenali hal-hal khusus yang terpampang dari prinsip dan generalisasi.
  • Dapat menjelaskan suatu gejala baru berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu.
  • Dapat meramalkan sesuatu yang akan terjadi berdasarkan prinsip dan generalisasi tertentu.
  • Dapat menentukan tindakan atau keputusan tertentu dalam menghadapi situasi baru dengan menggunakan prinsip dan generalisasi yang relevan.
  • Dapat menjelaskan alasan menggunakan prinsip dan generalisasi bagi situasi baru yang dihadapi.

Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur aspek penerapan adalah pilihan ganda dan uraian. Kata-kata kerja operasional menerapkan : melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi.

Contoh

Indikator :  Mendeskripsikan konsep larutan elektrolit dan reaksi redoks dalam memecahkan masalah lingkungan.

Soal : Bagaimana proses pengolahan air bersih dengan metoda lumpur aktif?

d. Analisis (analysis)

            Analisis adalah suatu kemampuan peserta didik untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil atau merinci faktor-faktor penyebabnya dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya (Sudijono, 2001:51).

Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian. Kata-kata operasional menganalisis : menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, membandingkan, mengintegrasikan dsb.

Contoh

Indikator : Membedakan atom C primer, sekunder, tertier dan kuarterne dalam rantai karbon

Soal :

e. Penilaian (evaluation)

      Evaluasi adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide. Soal evaluasi adalah soal yang berhubungan dengan menilai, mengambil kesimpulan, membandingkan, mengkritik, membedakan, menerangkan, memutuskan dan menafsirkan.

Kata-kata kerja operasional mengevaluasi : menyusun hipotesi, mengkritik, 
memprediksi, menilai, menguji, mebenarkan, menyalahkan.

Contoh

Indikator : Menyelidiki kepolaran beberapa senyawa dan hubungannya dengan   keelektronegatifan melalui percobaan.

f. Kreasi

Kreasi adalah tahapan yang paling tinggi dari revisi taksonomi Bloom. Berkreasi berarti merancang sesuatu untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Sebelum berkreasi seseorang harus mampu mengingat, memahami dan menerapkan apa yang telah diperolehnya sehingga dia mampu melakukan suatu pembaharuan. Kata-kata kerja operasional berkreasi : merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.

Contoh

Indikator : Merancang dan melakukan percobaan untuk mengidentifikasi unsur C, H, dan O dalam senyawa karbon dalam diskusi kelompok di laboratorium

2. Ranah Afektif (afektive domain)

            Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.

Beberapa jenis kategori ranah afektif sebagai hasil belajar:

a. Menerima (Receiving)

            Menerima artinya kemauan untuk memperlihatkan suatu kegiatan atau menerima merupakan kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang pada siswa dalam bentuk situasi. Salah satu yang termasuk jenjang ini ialah kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, kontrol, dan rangsangan dari luar.

Contoh Pada tahapan ini siswa dapat menyadari bahwa kimia dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, baik senyawa-senyawanya, maupun prosesnya.

b. Menanggapi (Responding)

            Menanggapi yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya. Peserta didik cukup berkomitmen untuk menunjukkan perilaku bahwa ia bersedia untuk merespon bukan karena takut atau hukuman, namun karena dirinya sendiri atau secara sukarela.

Contohnya pada tahapan ini tumbuh keinginan siswa untuk mempelajari lebih jauh tentang ilmu kimia, dengan aktif bekerja di laboratorium untuk menemukan sesuatu.

c. Penilaian (Valuing)

Konsep nilai yang abstrak ini sebagian merupakan hasil dari penilaian (valuing) atau asesmen (assessment) dan juga merupakan hasil sosial yang perlahan-lahan telah terserap dalam diri siswa (internalized) atau diterima dan digunakan siswa sebagai kriteria untuk melakukan penilaian. Unsur utama yang terdapat pada perilaku dalam melakukan penilaian adalah bahwa perilaku tersebut dimotivasi, bukan oleh keinginan untuk menjadi siswa yang patuh, namun oleh komitmen terhadap nilai yang mendasari munculnya perilaku.

Pada tahapan ini kemampuan internal yang dimiliki siswa adalah menerima suatu nilaki, menghargai nilai tersebut. Kata-kata kerja operasionalnya antara lain menunjukkan, melaksanakan, menyatakan pendapat, ikut serta, menggabungkan.

Contoh :

Indikator : Mengamati reaksi yang terjadi di anoda dan katoda pada reaksi elektrolisis melalui percobaan

d. Mengorganisasikan (Organization)

             Mengorganisasikan adalah pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Kemampuan internal dari mengorganisasikan ini adalah siswa mampu membentuk sistem nilai, mampu bertanggung jawab terhadap nilai baru. Kata-kata kerja operasional antara lain merumuskan, menghubungkan, menyusun, membandingkan, memodifikasikan, menyesuaikan.

Contoh

Indikator : Menentukan hubungan konfigurasi elektron dengan letak unsur dalam tabel periodik

e. Karakteristik nilai/menjadikan pola hidup (Characteriszation by a value)

            Karakteristik nilai ialah keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku. Tingkah laku siswa menetap, konsisten dan dapat diramalkan, sehingga tingkah lakunya itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa itu. Kata-kata kerja operasional dari tahapan ini adalah menyatakan, memperlihatkan, membuktikan, mempertimbangkan.

Contoh :

Indikator : Membuktikan Hukum Lavoisier melalui percobaan

3. Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Bloom dan rekan-rekannya pernah membuat subkategori untuk keterampilan dalam domain psikomotorik, tetapi sejak itu pendidik lainnya telah menciptakan sendiri taksonomi psikomotorik mereka. Simpson (1972) antara kontributor lain, seperti Harrow (1972) dan Dave (1975) menciptakan Taksonomi psikomotor yang membantu untuk menjelaskan perilaku peserta didik khas atau atlet kinerja tinggi. Tingkat diusulkan adalah:

  1. 1.    Persepsi

Kemampuan untuk menggunakan isyarat sensorik untuk memandu aktivitas motorik . Hal ini berkisar dari rangsangan indra, melalui seleksi isyarat, untuk terjemahan. Contoh: Mendeteksi isyarat komunikasi verbal-non. Perkiraan mana bola akan tanah setelah itu dibuang dan kemudian pindah ke lokasi yang benar untuk menangkap bola. Mengatur panas kompor untuk mengoreksi temperatur oleh bau dan rasa makanan. Mengatur tinggi dari pada garpu forklift dengan membandingkan mana garpu dalam kaitannya dengan palet. Kata-kata kerja operasional: memilih, melukiskan, mendeteksi, membedakan, membedakan, mengidentifikasi, isolat, berhubungan, memilih.

  1. 2.    Set

Kesiapan untuk bertindak. Ini mencakup, fisik, mental dan emosional set. Ketiga set disposisi yang mentakdirkan seseorang tanggapan terhadap situasi yang berbeda (disebut pola pikir kadang-kadang). Contoh: Tahu dan bertindak berdasarkan urutan langkah-langkah dalam proses manufaktur. Kenali seseorang kemampuan dan keterbatasan. Menunjukkan keinginan untuk mempelajari proses baru (motivasi). Ini pembagian Psikomotor erat terkait dengan “Menanggapi fenomena” subdivisi dari domain terkendali. Kata-kata kerja operasional: dimulai, menampilkan, menjelaskan, bergerak, hasil, bereaksi, menunjukkan, menyatakan, relawan.

  1. 3.    Dipandu Respon

Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks yang mencakup imitasi dan trial and error. Kecukupan kinerja dicapai dengan berlatih . Contoh: Melakukan suatu persamaan matematika seperti yang ditunjukkan. Mengikuti instruksi untuk membangun model. Respon tangan-sinyal dari instruktur sambil belajar untuk mengoperasikan forklift. Kata-kata kerja operasional : kopi, jejak, mengikuti, bereaksi, mereproduksi, merespon

  1. 4.    Mekanisme

Ini adalah tahap peralihan dalam mempelajari keterampilan yang kompleks. tanggapan Learned telah menjadi kebiasaan dan gerakan dapat dilakukan dengan beberapa kepercayaan dan kemampuan . Contoh: Gunakan komputer pribadi. Memperbaiki keran bocor. Mengendarai mobil. Kata-kata kerja operasional: merakit, calibrates, konstruksi, membongkar, display, mengikatkan, perbaikan, grinds, memanaskan, memanipulasi, tindakan, mends, campuran, mengatur, sketsa.

  1. 5.    Kompleks terbuka Respon

Kinerja terampil tindakan motor yang melibatkan pola gerakan yang kompleks . Kemahiran diindikasikan oleh, akurat, dan sangat terkoordinasi kinerja cepat, membutuhkan minimal energi. Kategori ini berisi melakukan tanpa ragu-ragu, dan kinerja otomatis. Sebagai contoh, pemain sering terdengar mengucapkan kepuasan atau expletives segera setelah mereka memukul bola tenis atau melempar bola, karena mereka bisa tahu dari nuansa tindakan apa hasilnya akan menghasilkan. Contoh: manuver mobil menjadi tempat parkir paralel ketat. Mengoperasikan komputer dengan cepat dan akurat. kompetensi Menampilkan saat bermain piano. Kata-kata kerja operasional: merakit, membangun, mengkalibrasi, konstruksi, membongkar, display, mengikatkan, perbaikan, grinds, memanaskan, memanipulasi, tindakan,  campuran, mengatur, sketsa. Kata-kata kerja operasional adalah sama seperti Mekanisme, tapi akan memiliki kata keterangan atau kata sifat yang menunjukkan bahwa kinerja lebih cepat, lebih baik, lebih akurat.

  1. 6.    Adaptasi

Keterampilan yang dikembangkan dengan baik dan orang tersebut dapat memodifikasi pola pergerakan untuk memenuhi persyaratan khusus . Contoh: Respon efektif dengan pengalaman tak terduga. Memodifikasi instruksi untuk memenuhi kebutuhan peserta didik. Lakukan tugas dengan mesin yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk melakukan (mesin tidak rusak dan tidak ada bahaya dalam melaksanakan tugas baru). Kata-kata kerja operasional menyesuaikan, mengubah, perubahan, menggarapnya, mereorganisasi, merevisi, bervariasi.

  1. 7.    Originasi

Membuat pola gerakan baru agar sesuai dengan situasi tertentu atau masalah khusus . Hasil pembelajaran menekankan kreativitas berdasarkan mengembangkan keterampilan tinggi. Contoh: Membangun sebuah teori baru. Mengembangkan program pelatihan yang komprehensif dan baru. Membuat rutinitas senam baru. Kata-kata kerja operasional: mengatur, membangun, menggabungkan, konstruksi, menciptakan, desain, memulai, membuat, berasal.

PENILAIAN RANAH KOGNITIF , AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR

Kognitif

Apabila bahan ajar telah diajarkan secara lengkap sesuai dengan program yang telah ditetapkan maka membuat alat penilaian (soal) dengan formulasi perbandingan sebagai berikut:
1.soal yang menguji tingkat pengetahuan peserta didik : 40%
2. soal yang menguji tingkat pemahaman peserta didik : 20%
3.soal yang menguji tingkat kemampuan dalam penerapan pengetahuan : 20%
4. soal yang menguji tingkat kemampuan dalam analisis peserta didik .: 10%
5.soal yang menguji tingkat kemampuan sintesis peserta didik : 5%
6.soal yang menguji kemampuan kreasi dalam mengevaluasi : 5%
Total formulas! soal untuk satu kali ujian yaitu: 100%
            Dengan menggunakan formulasi perbandingan soal di atas mempermudah seorang guru untuk memperjelas cara berfikirnya dan untuk memilih pertanyaan-pertanyaan (soal-soal) yang akan diujikan, selain itu juga dapat membantu seorang guru agar terhindar dari kekeliruan dalam membuat soal.
Seorang guru dituntut mendesain program/rencana pembelajaran termasuk di dalamnya rencana penilaian (tes) diantaranya membuat soal-soal berdasarkan kisi-kisi soal dan komposisi yang telah ditetapkan.
Bentuk tes kognitif diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan di kelas, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian non obyektif atau uraian bebas, (5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portopolio dan (8) performans

Ranah Afektif

Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.

1. Sikap

Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.

Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.

2. Minat

Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.

Penilaian minat dapat digunakan untuk:

a. mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,

b. mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,

c. pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,

d. menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,

e. mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,

f. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,

g. mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,

h. bahan pertimbangan menentukan program sekolah,

i. meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

3. Konsep Diri

Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.

Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.

4. Nilai

Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.

5. Moral

Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.

Penilaian  Psikomotor

 

Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung, (2) sesudah mengikuti pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap, (3) beberapa waktu sesudah pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya. Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja, (2) kemampuan menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan, (3) kecepatan mengerjakan tugas, (4) kemampuan membaca gambar dan atau simbol, (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan. Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.

Daftar Pustaka :

Burhan Nurgiyantoro, 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Dr. Nana Sudjana, 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya

Prof. Drs. Anas Sudijono, 2001. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi aksara.

http://prasastie.multiply.com/journal/item/47

http://wowosk.com/artikel/taxonomi.php

(http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_Taxonomy).

Thank You Myspace Comments
MyNiceProfile.com

About NOVIA KIMIA PASCA UNP

mahasiswa kimia pasca sarjana UNP

Posted on Mei 12, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: